Kamis, 09 Oktober 2008

PESAN DARI ALAM

Betapa kita sering kita daki gunung yang dari kejauhan tampak indah, dan ternyata kesejukannya mampu meluruhkan ketegangan urat syaraf yang terasa kian penat di hari - hari kesibukan kita. Ada banyak hal yang sempat saya catat dan akan selalu saya ingat dari perjalanan mendaki gunung.
Sebuah perjalanan yang bila dirasakan tapak demi tapak akan jelas meninggalkan jejak dan beraneka makna dalam benak kita. Perjalanan itu sungguh amat sangat melelahkan bila kita tak berangkat dari hasrat untuk mengetahui keindahan yang belum pernah kita rasakan manakala berada di puncak gunung yang kita tuju. Sebuah keindahan yang hanya dapat kita rasakan manakala kita telah mengalaminya. Dan tak ada pilihan kecuali hanya dengan mendakinya setapak demi setapak hingga sampai puncak tertinggi yang mampu kita daki.
Onak dan duri, batu dan bahkan jalan buntu adalah sesuatu yang pasti akan kita temui selama kita mendaki. Lapar, dahaga, dan lelah seolah berpacu dengan harapan yang ingin segera dapat menikmati indahnya alam saat kita tiba di puncak sana.
Di saat - saat seperti itu hati ini mulai bersaksi bahwa betapa menuju puncak, menggapai cita-cita sebuah obsesi diperlukan pengorbanan, perjuangan dan ketangguhan jiwa dan raga kita. Nyali dan semangat adalah bekal utama yang tak boleh ketinggalan. Dan Subhanallah ..saat puncak itu telah terdaki, dan kita masih sanggup berdiri, betapa luas alam ini telah dicipta oleh Illahi Rabbi. Di saat itu betapa kecil diri ini kian terasa. Betapa keagunganNya telah menyadarkan kami bahwa Allah itu pastilah indah, karena apapun yang diciptakanNya memang sungguh indah.
Rasa takjub dan haru itu terkadang beradu dengan rasa bangga dan ujub dalam diri yang kian menyelinap hingga terkadang takabur lambat laun menjebak pencapaian kami. Betapa di tempat yang paling tinggi kita merasa sedmikian tinggi dan yang lain ada di bawah kita. Di sinilah awal segala sesuatunya berubah dan bahkan meninggalkan kita sendiri dalam kesunyian, dan kesombongan.
Air minum yang tertumpahpun mengalir menjauhi tempat kaki berpijak. Kesejukan itu meninggalkan kesombongan kami yang dengan angkuh berdiri di tempat yang kami kira paling tinggi.
Itukah yang selama ini kami cari. Pencapaian titik tertinggi yang membuat kami bangga, takabur dan terlena dengan apa yang kami namakan sebagai prestasi?
Sudahlah..di saat senja mulai memanggil di ufuk barat, segalanya terasa kian luruh dan langkah kembali segera berayun dengan gambar, catatan dan kenangan yang entah kapan lagi dapat terulang kembali.
Di perjalanan pulang kembali, kaki ini menjadi saksi betapa hidup ini kurasakan seperti perjalanan mendaki puncak gunung yang sepi. Semakin tinggi puncak ku daki, semakin kutinggalkan keramaian kehidupan dan keramahan pergaulan. Bahkan air yang jernih pun tak sudi menemani tubuh yang tegap berdiri di puncak yang tertinggi. Betapa air mengalir menuju sungai, danau dan laut...tempat yang jauh lebih rendah, sebagai gambaran perginya kesejukan dari keangkuhan dan kesombongan menuju kerendahan hati.
Maafkan kami, bila suara hati ini tak begitu jelas atau bahkan terkesan menggurui. Maafkan keterbatasan penguasaan bahasa kami. Semoga apa yang kami maksud layaknya gayung bersambut, semoga apapun yang kami upayakan, akan dapat menyisakan kesan renungan penyadaran. Walahualam.

Tidak ada komentar: